Pilkada DKI 2012 dan Harapan Pemilu 2014 - PKS TUBAN
Headlines News :
Home » » Pilkada DKI 2012 dan Harapan Pemilu 2014

Pilkada DKI 2012 dan Harapan Pemilu 2014

Written By DPD PKS TUBAN on Selasa, 24 Juli 2012 | 24.7.12


Islamedia - Pilkada DKI Jakarta tahun 2012 putaran pertama tanggal 11 Juli 2012 telah kita lalui, segala hiruk pikuk kampanye dan pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur telah sirna. Akan tetapi perhelatan yang dimulai sejak sosialisasi, pendaftaran calon, masa kampanye hingga hari pencoblosan tetap menyisakan catatan bagi warga DKI Jakarta maupun bangsa Indonesia.

Ada harapan baru yang didapat dari Pilkada ini, walaupun ada juga kekecewaan yang merasuk dalam jiwa. Maka kita hanya bisa mengambil pelajaran dari setiap peristiwa untuk perbaikan masa depan.

Tingkat Partisipasi Pemilih yang Rendah

Dari hasil quick count berbagai lembaga survey ada kenaikan  bahwa sekitar 37 % pemilih yang terdaftar tidak mencoblos. Sehingga dari seluruh suara yang masuk, hanya 63 % yang berpartisipasi.  Bahkan dari data yang penulis dapatkan, di daerah Cilincing, Jakarta Utara ada TPS yang memiliki DPT 523 orang dan didatangi oleh 70 orang pemilih (13%).

Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah memang masyarakat apatis terhadap Pilkada dengan 6 calon yang ada, atau sebagian besar warga yang terdaftar di DPT sebenarnya tidak ada/tidak lagi tinggal di sana. Dari hasil quick count, dengan suara ± 42% Jokowi-Ahok sebenarnya hanya 28,14 % dari DPT dan suara ± 34% Foke-Nara (22,78% dari DPT). Sehingga kualitas hasil Pilkada ini kurang baik secara tingkat partisipasi pemilih, karena pemenangnya adalah ‘Golput’ dengan 37 %.

Ini menjadi PR bagi KPU untuk kembali memperbaiki DPT atau mensosialisasikan Pilkada DKI 2012 putaran ke-2.

Pilkada DKI adalah Pengadilan bagi Pemilu Berikutnya

Pilkada DKI Jakarta dalam sejarahnya adalah pengadilan bagi pemenangnya untuk Pemilu selanjutnya. Mulai Pemilihan Gubernur (Pilgub) oleh DPRD di tahun 1997, Golkar yang baru saja menjadi pemenang diantara 2 partai lainnya (masa Orba) mendukung dan memilih Sutiyoso (mantan Pangdam Jaya) sebagai Gubernur DKI 1997 – 2002. Setelah kemenangan reformasi di tahun 1999, Golkar kalah di Pemilu oleh PDIP yang notabene oposisi saat itu.

Pilgub di tahun 2002, Sutiyoso malah didukung oleh pemenang Pemilu 1999 PDIP dan ternyata Sutiyoso menang di tahun 2002. Maka Pemilu 2004 merupakan ‘kuburan’ bagi PDIP yang kalah di Pemilu 2004 secara nasional oleh Golkar, sedangkan DKI Jakarta dipimpin oleh PKS dengan suara 24 %.

Pilgub 2007 menghasilkan Foke-Prijatno yang dukungannya dimotori oleh Golkar dan 20 partai lain menjadi pemenang dengan suara ± 51% sedangkan Adang-Dani yang hanya didukung oleh PKS (pemenang 2004 di DKI) mendapatkan suara ± 49%. Kalau dibagi ke seluruh partai, maka rata-rata pendukung Foke-Prijatno hanya mendapatkan 2,5 %.  Sehingga banyak yang mengatakan, pemenang sesungguhnya di Pilgub 2007 adalah PKS. Hasil Pemilu berikutnya di 2009, PKS malah kalah oleh Demokrat di DKI maupun sedangkan secara nasional Demokrat mengalahkan Golkar.

Maka siapapun pemenang antara Foke-Nara (Demokrat dan koalisinya) dan Jokowi-Ahok (PDIP dan Gerindra), ini akan menjadi pengadilan bagi partai-partai pendukungnya di Pemilu 2014 nanti. Karena sejarah DKI mencatat, pengusung pemenang Pilgub DKI adalah partai yang akan kalah di Pemilu 2 tahun berikutnya. Dan ini menjadi angin segar bagi partai-partai yang calonnya tidak masuk ke putaran ke-2 seperti PKS, Golkar dan PPP.

Ideologi Islam dan Komunitas Muslim menjadi Rebutan

Dari hasil putaran pertama Pilgub DKI 2012, ada perubahan cara pandang masyarakat dalam menentukan pilihan. Ideologi dan Komunitas Islam menjadi rebutan bagi seluruh kontestan Cagub dan Cawagub. Ideologi Islam yang merupakan rahmatan lil ‘aalamin, digunakan oleh semua kontestan dengan jargon dan iklan yang melayani masyarakat, program-program yang bermanfaat untuk masyarakat, berinteraksi langsung dengan masyarakat.

Demokrat yang mengusung calon internalnya Foke-Nara menggandeng partai-partai berbasis massa Islam seperti PKB, PAN dan LSM serta ormas Islam yang mendukungnya. Golkar yang mengusung kadernya Alex dan mantan Dan Paspampres Megawati Nono Sampono juga menggandeng PPP yang memiliki akar cukup kuat di DKI. Calon-calon independen seperti Hendardji-Riza, Faisal-Biem dan Jokowi-Ahok pun mendekati komunitas muslim dengan menyambangi masjid-masjid, majelis taklim, dan melibatkan masyarakat dengan atribut Islam seperti jilbab, berpeci, dsb dalam iklan kampanyenya.

Harapan kepada Partai Islam dan Partai berbasis massa Islam

Dengan diperebutkannya komunitas muslim dan diikutinya ideologi Islam dalam meraih suara, maka ada harapan akan kejayaan Partai Islam dan Partai berbasis massa Islam di tahun 2014. Secara nasional Indonesia telah dan pernah dipimpin oleh 3 partai besar PDIP (1999), Golkar (2004) dan Demokrat (2009). Akan tetapi sampai saat ini keadilan dalam penegakkan hukum maupun kesejahteraan dalam ekonomi belum juga dirasakan oleh masyarakat.

Secara Internasional, krisis ekonomi yang dimulai tahun 2008 di Eropa dan Amerika hingga kini belum juga selesai. Bahkan banyak pengamat menilai ini sebagai masa kejatuhan ekonomi kapitalis/liberal. Sedangkan di belahan bumi lain, Timur Tengah dan Afrika Utara yang sebagian besar penduduknya muslim telah menikmati Arab Spring. Dengan tumbangnya para diktator tiran dan terpilihnya para pemimpin yang selama ini hidap dan melayani rakyatnya.

Anis Matta dalam beberapa orasinya pernah mengatakan, bahwa kebangkitan Islam dan kaum Muslimin bukan berawal dari kebangkitan Eropa, akan tetapi kebangkitan Islam akan dimulai dari kejatuhan Eropa.


Pilkada DKI 2012 – 1 dan Harapan Pemilu 2014

Dari hasil sementara dan kondisi Pilkada DKI Jakarta 2012 putaran pertama ini ada beberapa hal yang bisa kita simpulkan, yaitu :

1.       Permasalahan klasik DPT harus segera diselesaikan agar Pilkada di daerah lain dan Pemilu 2014 menjadi event yang menarik dan diikuti oleh sebagian besar warga dengan hak pilihnya.
2.       Siapapun pemenang Pilkada DKI akan menjadi pengadilan bagi Demokrat dan partai koalisinya serta PDIP dan Gerindra di Pemilu tahun 2014 seperti Pemilihan Gubernur DKI Jakarta sebelumnya.
3.       Bahwa ternyata ideologi Islam dan komunitas muslim yang merupakan mayoritas di Indonesia merupakan rebutan bagi para kontestan.
4.       Adanya harapan bahwa partai-partai Islam dan berbasis massa Islam seperti PKS, PAN dan PPP akan meraih kejayaan di Pemilu 2014.

Katakanlah : “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkai cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkai hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Ali Imran : 26).

Setelah hiruk pikuk Pilkada DKI Jakarta yang menyedot perhatian dan kontribusi seluruh warga Jakarta dan sebagian bangsa Indonesia, kini kita dihadapkan dengan pintu berkah, ampunan dan pembebasan dari api neraka. Karena Ramadhan telah datang dan saatnya kita khusyuk dan bekerja keras dalam meraih ridho-Nya…

Marhaban Yaa Ramadhan…

Bayu Triatmaja
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. PKS TUBAN - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger